Relationship Coach

Tanggal Cantik

Tanggal cantikAyo ngacung, siapa yang ikut menikmati macetnya jalanan di tanggal 10 November 2012 kemarin? Terutama bagi yang tinggal di Jabodetabek, lalu lintas di jalan raya di tanggal cantik itu luar biasa melelahkan. Sejak pagi hingga malam hari, kalau kita ikuti TL di twitter maupun laporan lalu lintas, semuanya berisi satu kata, macet!

Tapi saya bukan sedang ingin membahas tentang macet. Bukan bidang saya :). Saya ingin bahas tentang tanggal cantik, terutama hubungannya dengan relationship. Di tanggal 10-11-12 kemarin, banyak sekali yang memanfaatkannya untuk meresmikan hubungan dengan pasangan. dalam konteks ini tentu menikah. Boleh dibilang, gedung pertemuan panen order untuk resepsi pernikahan di tanggal itu.

Apakah salah, menentukan tanggal cantik untuk momen yang insya Allah hanya akan dilakukan sekali seumur hidup? Tidak salah koq… Tapi saya jadi merenung kembali saat diajak sharing secara LIVE di radio Elshinta Jakarta, membahas fenomena tanggal cantik untuk pernikahan. Dalam talkshow tersebut pendengar diundang untuk berpartisipasi aktif via telephone atau sms.

Yang menarik dari respon para pendengar, sebenarnya banyak yang ingin mengadakan resepsi secara sederhana. Karena esensi dari resepsi sendiri sebenarnya adalah menginformasikan kabar bahagia kepada kerabat dan relasi. Namun tuntutan adat, tradisi, dan keinginan dari keluarga besar sering menjadi kendala untuk penyelenggaraan resepsi secara sederhana. Belum lagi konflik yang sering terjadi menjelang resepsi.

Yang ingin saya sampaikan, seringkali kita fokus kepada sebuah event yang hanya akan berjalan selama 2 jam. Mati-matian mempersiapkannya, namun ‘lupa’ bahwa ada kehidupan setelah resepsi. Bahwa setelah resepsi selama 2 jam itu, mereka masih harus menjalani kehidupan pernikahan selama 40-50 tahun ke depan. Pertanyaannya, apakah mereka sudah memiliki bekal yang cukup untuk menjalaninya? Jangan sampai habis-habisan, jor-joran di resepsi namun tidak memiliki bekal yang cukup untuk kehidupan setelah resepsi.

Ingat, ada kehidupan yang harus dijalani setelah resepsi… Sudah punya bekalnya? :)

 

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Leave a Reply