Relationship Coach

Stadium Konflik Dalam Pernikahan

Cracked relationshipYuk kita lanjut obrolin stadium konflik dalam pernikahan. Di artikel sebelumnya saya sempat membuat wake up call tentang kemungkinan anda saat ini berada di stadium 3. Tapi seperti apa sih, stadium konflik di dalam kehidupan pernikahan?

Saya membagi dalam 4 stadium, dimulai dari stadium 1. Loh, kenapa bukan dimulai dari stadium 0? Sederhana saja, karena tidak ada pernikahan yang sempurna. Tdk ada kehidupan pernikahan yang bebas friksi, perbedaan pendapat/ konflik.  Stadium digunakan untuk mengukur kadar permasalahan yang ada.

Stadium 1.

Sudah dimulai sejak malam pertama. Kebayang dong, 2 pribadi yang berbeda sekarang tinggal bersama. Mulai timbul sedikit perasaan tidak nyaman. Karakter dan kepribadian yg berbeda juga mulai menimbulkan friksi. Mulai dari handuk yang diletakkan sembarangan, cara pencet odol, dan kebiasaan2 lainnya yang tidak sama. Namun karena masih ‘baru’, maka semua perbedaan & rasa ketidaknyamanan tersebut cenderung diabaikan. Rasa cinta masih membara. Bahkan mungkin saja rasa tidak nyaman ini sudah terjadi saat honeymoon. Tidak sedikit yang mengalami honeymoonnya tidak seperti yang dibayangkan.

Berapa lama kondisi stadium 1 ini? Tergantung dari apa yang dilakukan oleh anda berdua. Didiamkan saja atau mulai dikomunikasikan. Jika anda memilih untuk mendiamkan saja, ada 2 kemungkinan. Mungkin saja salah satu pasangan memiliki keikhlasan yg luar biasa. Jika salah satu ikhlas dalam pengertian yang sebenarnya, anda tetap di stadium 1. Bisa juga terjadi salah satu atau keduanya pilih mengalah daripada ribut. Namun jika ada yg memilih untuk mengalah, ini akan jadi bom waktu. Bisa saja tidak lewat stadium 2, namun langsung stadium 3 atau 4.

Ada juga yang di stadium 1 coba untuk mengkomunikasikannya. Hasilnya tergantung dari bagaimana cara mengkomunikasikan, skill yang dimiliki & timingnya. Kalau anda berdua sejak awal punya komitmen yang kuat, kesamaan value, saling coba mengerti pasangan & sama-sama mau tumbuh besar kemungkinan anda tetap di stadium 1. Lalu siapa yg akan tergelincir ke stadium 2?

Beberapa diantaranya adalah mereka yang memegang prinsip “terima saya apa adanya”… Khan kamu tahu sejak sebelum menikah saya sudah seperti ini. Jadi sekarang kamu jangan coba-coba  merubah saya. Kamu harus terima saya apa adanya. Wah, keren & mantap ya? Sadarkah anda makna dibalik itu?

Kalau apa adanya anda sudah bernilai 9 (skala 1-10) maka anda wajar dan berhak untuk mengatakan kalimat tersebut. Namun kl kalau apa adanya anda: egois, jutek, ngomong sembarangan, sinis, sering menyindir, malas, pokoknya banyak rapor merahnya, menurut anda adilkah mengatakan hal tsb? Bagaimana jika ternyata pasangan anda sama merahnya rapornya & minta hal yg sama? Diajuga minta anda mau menerima dia apa adanya? Anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi? Yup, dengan cepat anda berdua akan masuk ke stadium 2.

Ada juga yang sudah berusaha mengkomunikasikan hal ini kepada pasangannya. Namun karena kurang skill & salah pilih timing malah jadi ribut. Yangterakhir ini juga akhirnya masuk ke stadium 2. Oya, kondisi di stadium 1 itu relatif belum banyak konflik terbuka. Lebih banyak membatin.

Stadium 2

Apa ciri2nya? Yang tadinya membatin, sekarang sudah mulai tidak tahan untuk mengekspresikan rasa tidak nyamannya. Sudah mulai terjadi pertengkaran, sindiran, bahasa isyarat dan bahasa tubuh yang menunjukkan rasa tidak senang/nyaman. Di stadium 2 ini kerusakan sudah mulai terjadi. Perasaan terluka, sakit hati akan terakumulasi. Mulai enggan utk mengkomunikasikan perasaan masing-masing. Saling tuntut, menyalahkan mulai sering terjadi. Jika komitmen dan kemauan untuk tumbuh kurang kuat, akan sgrsegera masuk ke stadium 3.

Stadium 3

Di stadium 3, konflik terbuka sudah terjadi. Kadang-kadang tidak peduli konflik di depan anak. Juga suka menyindir pasangan di depan orang lain. Beberapa tidak tahan di stadium 3 dan mulai lirik rumput tetangga. Mulainya bisa dari curhat, ‘kebetulan’ ada yang bisa memberi rasa nyaman. Ada yang ‘melarikan diri’ ke pekerjaan, bisnis atau kegiatan sosial. Komunikasi sepertinya buntu. Ada juga yg konflik terbuka dg cara mendiamkan pasangannya. Bisa beberapa jam, hari, minggu bahkan bulan.

Di stadium ini ada yang akhirnya sadar kalau kondisi pernikahan sudah kritis dan berusaha mencari solusi. Ada yang mampu melakukan introspeksi dengan cepat. Ada yang berusaha cari bantuan, bisa dari keluarga, teman atau kepada mereka yang ahli di bidangnya. Mereka yang cepat sadar, masih terbuka kemungkinan untuk menurunkan tingkat konflik ke stadium 2 dan 1. Namun ada jg yg tidak sadar. Entah tidak sadar, atau terlalu PeDe dengan kemampuan sendiri untuk menyelesaikan konflik. Kalau rasa PeDe diikuti dengan kemauan untuk mencari knowledge dan skill yang dibutuhkan serta mau berubah, masih terbuka harapan. Namun jika hanya berbekal PeDe saja, sepertinya cukup sulit untuk bisa turun ke stadium 2 atau 1.

Ada juga yang saat di stadium 3 sebenarnya sadar sedang kritis, namun sudah apatis. Sudah merasa tidak ada harapan. Ada pula yang di stadium 3 merasa dirinya sebagai korban, pasangannya lah yang harus berubah. Tidak ada keinginan untuk introspeksi, yang ada menyalahkan pasangan. Faktanya, it takes two to tango. Hampir bisa dipastikan ada peran masing-masing yang membuat kondisi ini terjadi. Di stadium 3 ini juga disertai dengan kelelahan mental yang luar biasa. Jika tidak segera ambil tindakn cepat & nyata, akan masuk ke stadium 4

Stadium 4

Di stadium 4, seringkali ditandai dengan keinginan salah satu pasangan atau keduanya untuk berpisah. Ada yang terlontarkan pada saat bertengkar. Ada yang akhirnya tidur terpisah, beda kamar atau beda rumah. Ada juga yang sudah  melayangkan surat gugatan cerai ke pengadilan. Jika sudah di stadium 4, tingkat kerusakan yang terjadi sudah sangat parah. Dibutuhkan komitmen, keberanian dan usaha yang luar biasa untuk bisa menyelamatkan pernikahan tsb. Namun bukan berarti hal ini mustahil. Tetap ada harapan. Akan lebih besar lagi harapannya jika menggunakan ‘invisible hand’. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri dalam menghadapi krisis ini. Minta pertolongan & bimbingan Nya. Semakin dini kita mohon bimbingan Nya, semakin baik. Terlebih lagi jika sudah di stadium 4. Anda BUTUH pertolongan NYA. Salah satu caranya; SEDEKAH dengan jumlah yang besar.

Di stadium 4, pilihan anda tinggal do or die. Karena kalau anda tidak melakukan action, bisa dipastikan menuju jurang kebinasaan. Bisa dalam bentuk hancurnya pernikahan atau bisa juga berpengaruh kepada sakit secara fisik & mental. Depresi, stress tingkat tinggi, penyakit stroke, jantung, kanker payudara, dll sudah menunggu.

Hiiii… syerem ya… So, ada di stadium berapa kehidupan pernikahan anda saat ini? Semakin cepat anda sadar dan mau jujur, semakin ‘murah’ harga yang harus anda bayar.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

Post Tagged with

6 Responses on “Stadium Konflik Dalam Pernikahan

  1. sos says:

    ciri kami sdh stadium 4 pak! saya masih mau berjuang dan belajar dari beberapa artikel2 pak noveldy tapi pasangan beranggapan itu semua teori dan omdo (omong doang)…need help!Saya sudah sms ke nomor tersebut mohon tanggapannya pak, terima kasih..

    1. noveldy says:

      Boleh dikirim ulang sms nya? Mungkin terselip…

  2. upik says:

    Sepertinya sdh di stadium 4.. Kelelahan dlm berumah tangga sangat jelas saya rasakan, selalu mendptkan respon negatife apapun yg lakukan d mata suami, bagaimana saya bs berkonseling dng anda?

    1. noveldy says:

      Untuk buat janji konseling, sila sms 081284102222 ya

  3. vita says:

    rasanya sudah di stadium 4. Knowledge dan skill apa yg harus saya lakukan untuk memperbaiki diri dulu?

    1. noveldy says:

      Kalau sudah di stadium 4, yuk bantu dengan sedekah dalam jumlah yang cukup besar…
      Coba segera ikut training’seminar tentang membangun keluarga sakinah…
      Cari bantuan dari konselor pernikahan…

Leave a Reply