Relationship Coach

Saya percaya Tuhan

Saya Percaya TuhanHari ini saya dapat kabar yang kurang menggembirakan dari klien. Tinggal satu langkah lagi menuju pisah secara resmi. Jujur saya terkejut mendengar perkembangan ini. Karena sebenarnya mereka berdua masih dalam proses konseling dan sudah menyatakan komitmen untuk mau menjalani proses konseling ini.

Saya mencoba menggali apa yang sebenarnya terjadi. Dan saya jadi tertegun, sedih saat mendengar penjelasan yang ada. Ternyata yang terjadi mirip dengan artikel saya sebelumnya, Memuaskan EGO. Namun ada sebuah kalimat yang menggelitik saya. Terjadi perbincangan di antara mereka berdua, sang suami dan istri. Untuk menghindari adanya bias, saya sengaja tidak mencantumkan siapa yang mengatakan apa :).

A: Kita ini khan sedang dalam proses konseling… Kita sudah setuju untuk menjalani program yang disiapkan… Kita juga sudah setuju untuk menjalani prosesnya… Kita juga sudah diingatkan, mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan… Kita juga sudah diinfokan akan seperti apa proses yang akan kita jalani berdua… Dan kita sudah diingatkan, untuk mau bersabar dalam prosesnya…

B: Tapi aku nggak bisa nunggu selama itu

A: Khan kita sudah sepakat untuk ikut program konseling… Ya kita harus percaya dengan program yang disiapkan… Kita jalani prosesnya..

B: Saya hanya percaya sama Allah!

Saya hanya bisa mengurut dada saaat mendengar penggalan diskusi diantara mereka berdua ini. Hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Si B berlindung dibalik uangkapan, saya hanya percaya kepada Allah. Sadarkah si B, apa yang sudah dia katakan? Atau itu hanya tameng untuk bisa memuaskan egonya?

Yuk kita coba lihat makna dibalik ungkapan saya percaya Tuhan. Salah satu bentuk real dari ungkapan kita percaya kepada Tuhan adalah kita percaya dengan adanya sunnatullah, yang diantaranya kita lebih familiar dengan istilah hukum alam. Salah satu sunnatullah yang ada, kita sebagai manusia harus percaya dengan yang namanya proses. Tidak ada yang namanya instan.

Mungkin kita masih ingat kisah di zaman nabi, saat ada seseorang yang ditegur kenapa unta nya tidak diikat. Dia menjawab: “Saya percaya kepada Allah, saya bertawakal kepada Nya”. Hasilnya, justru dia malah diingatkan, bukan begitu caranya percaya kepada Allah. Ikat dulu untanya, baru kemudian berserah kepada Nya. Intinya, kita lakukan dulu prosesnya.

Saya masih ingat sewaktu saya masih kecil dulu, ada seorang kerabat yang tidak pernah menjaga makannya. Dan tubuhnya sangat gemuk. Setiap kali ada yang mengingatkan, dia selalu menjawab: “Ah, gak masalah koq… Gak bakal ada apa-apa”. Apa yang terjadi kemudian? Dia kena stroke, bertahun-tahun hanya terbaring di ranjang sebelum akhirnya wafat.

Yuk teman, kita sadari apa yang kita katakan, apa yang kita ucapkan. Jangan hanya karena mencari pembenaran, mencari justifikasi untuk memuaskan ego kita, kita membawa-bawa nama Tuhan. Kita ikuti sunnatullah yang ada. Ingin dapat hasil yang baik? Ikuti prosesnya! Sakit, tidak nyaman, tidak enak? Itu harga yang harus kita bayar untuk memperbaiki hubungan dengan pasangan.

 

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

 

3 Responses on “Saya percaya Tuhan

  1. Rainy Andinie says:

    + ilmu buat saya…berusaha,
    Berproses, berserah diri kepd Alloh

  2. nurdina halim says:

    Betul banget, usaha dulu baru pasrah sama Allah alias serahkan hasilnya pada Allah.

  3. Asep Ruhimat says:

    Mantaapppp Pak,, Setuju!

Leave a Reply