Relationship Coach

Salah Pilih Pasangan

Salah Pilih PasanganBeberapa dari anda saat ini mungkin sedang merenung… “Jangan-jangan saya ternyata terlanjur salah pilih pasangan hidup saya. Saya merasa ‘tertipu’. Ternyata pasangan saya koq tidak seperti yang saya bayangkan yaa..? Malah jauuuh banget dibandingkan yang saya bayangkan sebelumnya. Haduuuh… mesti gimana dong, apa yang harus saya lakukan sekarang…?”

Sebelum anda lanjutkan ‘curcol’ anda, saya ingin sampaikan sebuah rahasia nich… Jangan-jangan pasangan anda saat ini juga sedang berpikiran yang sama lhoo… :). Lah, berarti kedua belah pihak sama-sama merasa salah memilih pasangan dong? Ya sudah, kalau begitu kita bubar saja… Eits, jangan keburu emosi dulu, yuk kita obrolin pelan-pelan.

Saat sedang mengalami konflik dengan pasangan, kecenderungan sebagian besar orang ¬†menunjuk kesalahan ada di pihak pasangannya. Contoh paling nyata uraian di atas. Saat kita merasa telah salah pilih, berarti kita sudah ‘menuduh’ pasangan kita sebagai pihak yang tidak bisa memenuhi ekspektasi kita, harapan kita, tuntutan kita.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengajak anda berdebat untuk membuktikan kebenaran dari pernyataan bahwa anda telah salah memilih pasangan. Atau apakah anda sudah menikah dengan orang yang tepat. Saya ingin mengajak anda untuk melihatnya dari prespektif yang berbeda. Daripada kita menyalahkan pasangan dengan mengatakan kita telah salah pilih, saya ingin menawarkan sebuah paradigma baru untuk anda.

Yuk coba jawab pertanyaan ini: “… apakah saya sudah menjadi orang yang tepat?” ¬†Betul sekali. Saya ingin mengajak anda untuk memindahkan fokus dari ‘dia’ menjadi ‘saya’. Dari faktor yang di luar kendali kita menjadi faktor yang berada dalam kendali kita. Saya yakin belum banyak yang menanyakan hal ini kepada diri sendiri. Belum banyak diantara kita yang memang menyiapkan dirinya untuk menjadi orang yang tepat. Apakah kita sudah memantaskan diri untuk bisa mendapatkan pasangan yang terbaik. Apakah kita sudah menyiapkan diri kita sedemikian rupa, sehingga kita memiliki keyakinan yang kuat siapapun pasangan kita akan merasa sangat bahagia dan beruntung memiliki kita sebagai pasangan hidupnya? Apakah kita sudah membangun kualitas yang memang dibutuhkan sehingga kita layak memiliki keyakinan tersebut?

Beberapa orang mempunyai keyakinan ‘yang kurang mendasar’ saat menyatakan bahwa siapapun yang menjadi pasangan hidupnya harus merasa beruntung memiliki dia sebagai pasangannya. Kenapa? Karena pernyataan tersebut dibuat secara subyektif, dari perspektif dirinya sendiri. Yang bersangkutan belum membangun kualitas yang memang dibutuhkan untuk sampai kepada kondisi tersebut. Jika ini yang terjadi, nuansa egois lebih kental terasa.

Bagaimana dengan anda sendiri? Sudahkah anda membangun kualitas yang dibutuhkan? Sudahkah anda memiliki keinginan untuk menjadi orang yang tepat? Maukah anda menjalani prosesnya untuk menjadi orang yang tepat? Maukah anda ‘membayar harganya’? Jika anda mengatakan YA untuk pertanyaan tersebut, mungkin pertanyaan yang dilontarkan diawal menjadi tidak relevan lagi. Kalau pasangan anda normal, dan anda sudah membangun kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi orang yang tepat, saya yakin sekali dia akan mau berjuang untuk memenangkan hati anda. Dia akan berusaha untuk memperbaiki dirinya, untuk memantaskan dirinya menjadi pasangan hidup anda.

Sekarang pertanyaan mana yang akan anda pilih? “… apakah saya salah pilih pasangan?” atau “… apakah saya telah menjadi orang yang tepat?” Keputusan ada di tangan anda… :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

2 Responses on “Salah Pilih Pasangan

  1. andriany putri says:

    Saya ingin menjadi orang yg tepat,,

  2. edo says:

    saya belum menjadi orang yg tepat, karena salah pilih pasangan
    he..he..he
    ha..ha..ha
    hu..hu..hu

Leave a Reply