Relationship Coach

Review Menikah Untuk Bahagia

Lagi iseng googling, eh ketemu dengan postingan yang menarik dari seorang blogger, mbak Lanny Nurani yang mereview buku yang saya dan istri tulis: Menikah Untuk Bahagia. Gaya bahasanya menarik, ulasannya tajam. Saya copas di sini, selamat menikmati :)

———————–

Katanya Menikah Itu… (Review Menikah Untuk Bahagia)

Tepat 01.15 WIB saya selesai membaca buku  Menikah untuk Bahagia buah fikirnya Om Indra Noveldy dan Tante Nunik Hermawati . Tidak pernah terpikir bila buku itu harus merubah persepsi saya  tentang menikah.
Membaca buku itu rasanya… otak ini dibedah, dipreteli dan kemudian ditempel (kuat) konsep-konsep Om Noveldy :D. Tidak hanya itu, jantung saya juga kebat-kebit setiap kali membaca tiap bab-nya. Pasalnya uraian, fenomena dan cerita buku ini bikin saya merenung, berharap, bermimpi, bersemangat , bahkan ketakutan sendiri untuk menikah (maklum kondisinya mau menikah). Namun… setelah tuntas membaca, ketakutan dan kegelisahan itu tersiram oleh kesimpulan manis yang mendamaikan jiwa, untuk itu saya mencoba menguraikannya di sini.
Apa sih yang membuat persepsi saya berevolusi tentang pernikahan gara-gara buku ini? Kawan, saya uraikan apa-apa saja yang ‘mengena’ bahkan ‘menghujam jantung’ ketika membacanya. Saking, analisis pernikahan yang dijabarkan Om Noveldy ini bener-bener sampe ke dalam-dalamnya. Fuihh… untungnya saya nemu buku ini, terima kasih ya Allah Maha Cinta sudah menunjukkan jalan saat saya bingung, terima kasih Om-Tante Noveldy udah berbagi ilmunya, terima kasih twitter udah ngasih fasilitas publikasinya, terima kasih Noura book udah nerbitin bukunya,  terima kasih my lovely Boo udah beli bukunya (Hehehe… gretongan itu alamiah, saudara2 :p ).
Back to topic. Daripada lama, mendingan saya buru-buru menguraikan beberapa poin penting yang selama ini tidak pernah kita pikirkan, (Kalau pengen jelasnya ya beli aja biar puas, rekomendasi banget!)

Be Soulmate, Not Roommate

Umumnya banyak pasangan yang lebih (kena) disebut roommate daripada soulmate. Cuma melakoni peran suami-istri dan ayah-ibu, tidak ada kedalaman sensasi cinta terpelihara di kemudian hari (sensasinya cuma di awal pernikahan saja). Peran-peran ini hanya menjalani ritual kehidupan monoton, rentan konflik karna memicu bom waktu (maksudnya klo ada masalah dipendam dan diabaikan, lama-lama meledak), istilah lainnya hidup membatin soalnya sulit terkomunikasikan apa yang dirasakan, terlalu banyak pengabaian, penerimaan (secara terpaksa), dan terluka,  sekalinya berkomunikasi pun malah berujung konflik.
Menurut buku itu, soulmate itu diciptakan dan bukan ditemukan. Itu artinya, setiap pasutri bisa menjadi mengusahakan pasangannya menjadi soulmate. Soulmate dalam kategori Om Noveldy-Tante Nunik terhimpun pada PISIK (Patner/ rekan, Ibu dan Ayah, Sahabat, Istri-Suami, Kekasih ) pasangan bisa disebut soulmate jika hubungannya tidak hanya sebagai hubungan suami-istri atau ayah dan ibu, melainkan hubungan partner, tim, sahabat dan kawan. Untuk menjadi soulmate itu gak instans, perlu proses dengan beberapa langkah, salah satunya identifikasi diri sendiri setiap pasangan.

Lihat Secara Mendalam, Adakah Luka?!

Saya tercengang (baru nyadar) bila setiap pasangan harus mengenal dirinya sendiri. Wah, inikan terlampau esensi. Langkah identifikasi ini diperlukan untuk memperbaiki masalah  dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri. Identifikasi  ini menganalisa cara  berpersepsi setiap kali menghadapi permasalahan.
Identifikasi diri juga meliputi identifikasi luka yang (sebenarnya) sudah tersimpan sejak lama dalam alam bawah sadar, pengalaman dan trauma (sekecil apapun kejadian itu tetap berpengaruh pada persepsi kita beropini. Pada dasarnya luka/ trauma  termanifestasi ke dalam alam bawah sadar kita yang menghimpun 80% lebih besar daripada alam sadar kita.
Luka tersebut biasanya terbentuk dari pola asuh dan program role-model (cara berumah tangga) orang tua kita sendiri. Jika role model yang terekam di kepala kita baik, ya bersyukurlah tapi bagaimana jika sebaliknya? Nah pentingnya identifikasi akan memudahkan kita untuk mengetahui pembenahan dan penyembuhan luka yang mengendap itu. Jika dibiarkan maka akan menjadi kendala besar berumah tangga. Karena pada dasarnya menikah itu berarti harus berubah, dirubah, dan mengubah untuk perubahan hidup yang lebih baik.

Menikah itu Berubah

Oh ya, kenapa harus berubah? Ternyata menurut buku itu, menikah berarti harus berubah; merubah, dirubah dan mengubah. Saya ingat dengan kutipan seorang kiai besar:

Berubah itu bergerak, bergerak itu tanda hidup. Tidak berubah berarti mati (KH. Maksum Yusuf).

Sebagai manusia kita memang dituntut berubah supaya hidup lebih baik, meliputi perubahan intelektual, pengetahuan, skill, akhlak dari segala aspek kehidupan ekonomi atau sosial, bahkan keimanan (itu mah jelas kenapa menikah disebut lapangan amal) supaya mampu menciptakan rumah tangga yang baik. Itu artinya menikah itu kita harus upgrade diri dan improve diri. Semuanya didukung oleh knowledge (celaka yang gak suka baca :p ) dan skill (ini mah bisa diasah asal tau dulu).
Dengan penjelasan itu, rasanya ironis dengan ungkapan ‘terima aku apa adanya‘ karena (katanya) menikah merupakan garis start untuk memulai perjalanan yang harus dilewati sampai garis finish, dimana  proses perjalanannya tidaklah cetek (mudah), banyak liku yang menguras tenaga, pikiran, emosi, dan materi.
Namun kenyataan ‘proses tidak mudah’ itu akan menjadi mudah apabila kita tahu ilmunya. Apabila kita ‘tahu’ harus bersikap dan menyikapinya seperti apa, maka siaplah untuk berubah. Berubah satu sama lain untuk menjadi lebih baik, termasuk aspek kehidupan bermaterial (ini kan yang selalu menjadi objek krusial). Untuk mencapai garis finish sebagai soulmate artinya siap berubah menjadi lebih baik.

Labolatorium Komunikasi 

Selain itu, yang bikin saya melongo (lagi) adalah menikah perlu kemampuan tinggi untuk berkomunikasi.  Tidak perlu pintar tapi mau belajar berkomunikasi satu sama lain. Pernikahan menyatuan dua makhluk dengan otak dan pikiran yang berbeda, untuk menjembataninya ya… komunikasi!
Intinya buku itu membuat saya harus berperan layaknya ilmuan yang sedang meneliti sebuah percobaan. Pasangan harus memposisikan diri sebagai penganalisa dan penemu agar menemukan the right communication (berkomunikasi dengan tepat)  terhadap pasangannya; mulai mencari tahu dan menggali sedalam-dalamnya personalitas pasangan kita (saya membayangkan pasangan kita seperti kelinci percobaan di labolatorium, hehehe).
Sesampai kita menemukan satu ‘clue‘ cara berkomunikasi terhadap pasangan, maka kita harus mecoba trial-error sampai cara berkomunikasinya tepat (et daaaaah…  ribet ya), dan itu berlangsung selama bertahun-tahun pasangan berumah tangga (0_o!!). Om Noveldy bilang, rumit ya? ya pasti rumit, bahkan Anda akan berdarah-darah menjalaninya tapi hasilnya akan sangat berharga dari apapun (hemmmm… peer banget!)

Love is Giving

Sumpah gara-gara buku ini, saya selalu murung setelah bangun tidur, soalnya keinget terus kemungkinan-kemungkinan buruk dalam berumah tangga nantinya :P. Konsep di atas tentunya sulit dipraktekan, gak semudah membalikkan telapak tangan. Dan bagaimana jika kesadaran itu hanya terjadi pada saya (saja) dan pasangan saya? tentu tidak akan selalu sepaham meskipun kita sama-sama  memahami konsep pernikahan di atas.
Kerennya, Om Noveldy mengingatkan saya (di buku itu) untuk selalu yakin dengan rumus ‘menanam’, sudah hukum alam jika kita banyak menanam tentu kita akan menuai hasilnya. Artinya jika kita berharap ini-itu kepada pasangan, maka lakukan terlebih daluhu konsep ‘memberi’ kelak harapan kita akan terkabul (meski terealisasi secara misteri/ tak terduga).
Selain itu, membubuhkan judul ‘Berserah’ di beberapa bab terakhir.  Berserah itu bukan kalah dan pasrah, tapi menyerahkan segala yang telah diupayakan. Berserah tidak akan timbul jika kita tidak berusaha terlebih dahulu. Di sini saya mencium sebuah pemahaman tentang penghambaan diri sebagai muslim  bahwa Allah tidaklah tidur.  Dan yang terpenting adalah tangguh beroptimis, karena Allah seperti prasangka hamba-Nya.
………………………………………………..
Menikah terdengar sangat rumit ya.  Tapi itulah yang namanya hidup, bukan? Siapapun harus bangun, bergerak dan berubah. Terlepas masalah menikah atau bukan, yang jelas kita harus selalu mampu melihat zona merah dalam hidup kita (baca: meninggalkan zona aman).
“Zona aman hanya istana megah bagi kaum pesimistik”
At least, buku Menikah untuk Bahagia menyadarkan saya untuk selalu belajar mengenal diri sendiri. kali ini saya mengerti sebuah ungkapan para sufi,
“Siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya
Saat mengenal tuhannya maka yang yang mampu dilihatnya adalah keindahan, kebahagiaan dan kedamaian.

Buku ini juga membuat saya bertanya (entah kepada siapa), kenapa mencari ilmu (belajar) itu tidak sewajib  melakukan shalat 5 waktu. Padahal, wahyu pertama kali yang turun kepada Rasulullah adalah surah Al’Alaq dengan redaksi ‘Iqra’ yang artinya ‘Bacalah’, literatur yang erat hubungannya dengan mencari tahu. Apabila seseorang sudah tahu (paling tidak) dia tahu apa yang dia hendak lakukan secara benar. Dalam Bahasa Arab, mengetahui (tahu) disebut dengan arafa yu’rifu. Kalau orang yang berilmu disebu ‘aarif, secara terminologi orang arif disebut orang yang bijak. Pantas saja Allah Swt. sangat menjunjung orang-orang yang berilmu, karena orang yang benar-benar ‘tahu’ dia selalu bertindak bijak.

Ok, saya sudahi ya sebelum ngalor-ngidul keman-mana. Penting tuh beli bukunya!
Makasih udah sempatin baca :) []

Sumber:
http://lannynurani.blogspot.com/2013/06/ternyata-menikah-itu-review-menikah.html

Leave a Reply