Relationship Coach

Pilihan Hati

Wah, sudah lama juga ya sejak posting terakhir saya… *malu*

Kali ini saya posting sharing dari seorang sahabat tentang pilihan hati nya…yang kemungkinan anda pernah kenal, baca beritanya tentang dia, karena dia seseorang yang sangat sukses dan prestasinya sangat bisa dibanggakan. Saya berterima kasih sekali kepada sahabat saya ini karena dia bersedia berbagi kisah perjalanan kehidupan pernikahannya kepada kita semua. Semoga sharing dari sahabat ini bisa memberi manfaat buat kita semua. Amin.

Selamat menikmati :)

pilihan hatiSaya dan suami dari keluarga yang cukup berada. Ketika menikah kami tidak ada resepsi dan dananya kami pakai beli rumah seharga 50 juta dan kami dapat mobil. Saya memilih suami karena alasan yang sangat subyektif. Dia muallaf dan saya ingin menemani dia dunia akhirat… dan  saya sangat yakin dia mencintai saya dan akan jadi pemimpin terbaik bagi saya.

Sebenarnya teman-teman dekat saya sebelumnya banyak yang kaya sekali tapi saya kok tidak tertarik ya. Saya pernah pacaran dengan anak orang terkenal yang sekarang jadi salah 1 orang terkaya di Indonesia. Tapi saya khawatir dengan social gap yang ada. Saya takut dilecehkan. Saya juga pernah punya teman dekat anak gubernur, tapi dia suka mabok dan jarang shalat sehingga saya tolak mentah-mentah deh.

Saya dulu menolak calon suami saya karena kami beda agama. Kemudian takdir menemukan kami kembali  setelah 1 tahun tidak bertemu.Cinta sulit dilogika ya? J  Ada kecocokan yang amat sangat. Bahkan dalm shalat-shalat tahajud dan istikaharah yang saya lakukan, keyakinan itu timbul dan semakin kuat. Persahabatan/proses ‘pedekate’ kami mengalami hambatan ke2 belah pihak. Keluarga.Ibu saya pemimpin aisyiah/muhammadyah… tidak setuju. Tapi dengan mukjizat Allah akhirnya kami bersatu dalam satu iman walaupun masih sulit menyatukan 2 keluarga beda iman dan  budaya hingga kini.

Kami jarang meminta… rumah mungil & mobil itu adalah hadiah perkawinan paling lux yang kami punya. Kami selalu bahu membahu dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Fyi, penghasilan saya selalu lebih besar dari suami. Kadang ini jadi pemicu pertengkaran tapi tidak pernah fatal karena suami punya jiwa besar.

Bahkan di dalam perusahaan pun saya juga cukup dominan. Namun kami saling melengkapi. Saya thinker & dia intuitive person. Kiri & kanan. Semakin kami harmonis, semakin kami dapat titipan Allah yang berlimpah. Tanpa bermaksud sombong dari rumah 75m2 dalam 17 tahun perkawinan menjadi 1100m2. Banyak teman yang melihat kami climbing social jauh lebih cepat dari mereka. Dari mobil gallant2 kuno sekarang sudah jadi jaguar XJ terbaru. Subhanallah…

Perkawinan kami juga tidak selalu mulus. Cara mengelola keuangan yang berbeda juga sering jadi pemicu perselisihan. Kalau kami berantem hebat, maka ada saja musibah yang terjadi. Makanya kami jarang bertengkar lebih dari 3 hari… Sama-sama gak mau kehilangan :). Perselisihan yang paling hebat terjadi 5 tahun yang lalu saat kami sama-sama tergoda dengan lawan jenis. Namun rasa cinta yang dalam mampu memaafkan kekhilafan.

Kami pernah mengalami kehidupan yang sangat minim secara ekonomi tapi kami selalu bahagia. Saya & suami masih sering bercanda & anak2 juga suka tertawa.  Kami masih sering memanggil dengan panggilan sayang, pergi berlibur berdua, pillow talk, tukar pikiran dan kami 24 jam selali bersama!!

Mengingat kembali proses menuju nikah, hari itu itu saya dilamar hari itu juga saya dinikahkan secara siri oleh ayah saya… 1 tahun kemudian baru diresmikan. Mertua saya sngt baik, walau beda agama. Saya sangat cinta mereka seperti orang tua  saya sendiri. Tapi beliau pernah meminta kami untuk membatalkan pernikahan kami.

Oh ya, sebelum menikah kami sempat berpisah untuk mempelajari agama calon pasangan dan secara bebas memutuskan untuk convert atau tidak. Saya pernah punya teman dekat yang punya salah satu stasiun TV nasional. Tapi gaya hidupnya yang western beda jauh dengan kebersahajaan keluarga saya. Saya juga pernah punya teman dekat pembalap nasional, tapi beda iman juga. Saya tidak melihat kans dia akan convert, so saya tidak tertarik. Saya suka jiper kalau punya suami dari keluarga yang social gapnya terlalu jauh, Takut disia-siakan.Hih serem deh. Mending mulai dari bawah bersama.

Masalah yang sering timbul adalah cara mengelola keuangan. Saya suka menabung sementara dia suka belanja. Kebalik ya hahaha. Sering kami dihutangi teman-teman dekat yang sulit kembali & ini suka jadi pertengkaran karena beda cara pandang mengenai definisi “duit” kali ya. Selain itu masalah lain adalah dia generous dan gampang ditipu teman sementara saya cenderung hati-hati, terkesan pelit.

Kisahnya saya mundur sedikit… karena beda iman, saya sempat tolak calon suami 2x. Saat dikenalkan dia terus terang ke sahabat saya mau pacarin. Saya tolak mentah-mentah. Padahal dia ganteng. Sempat bubar sebelum nikah. Sesudah nikah beberapa kali tercetus dari kedua belah pihak untuk bubar tapi tidak pernah serius atau from the bottom heart.

Sebelum menikah saya minta pisah sebelum dia memutuskan mau pindah / tidak. Saya sendiri berkomitmen untuk mempelajari agamanya jadi fair tidak ada pemaksaan. Saya sendiri sebenarnya tidak ingin covert, tapi komitmen tersebut saya berikan agar si dia merasa tidak ditekan. Karena itu masalah yang sangat prinsip.

Kami sangat mementingkan anak & ortu & diam-diam saling menyadari kalau kami sangat cinta. Susah lho cari ganti pria yang sholeh, sabar & “setia” hehe. Intinya saya melihat alasan perkawinan itu adalah faktor utama untuk bertahan dan menghindari perceraian. Ketika saya merasa menyakiti suami & beliau memberikan saya hak untuk memutuskan untuk terus atau cerai, justru disitu saya mulai merasa kehilangan yang sangat.

Kami masih saling percaya, menghargai, juga memuja “dalam hati” karena suka sok gengsi untuk merayu satu sama lain… hahaha. Saya mensyukuri memiliki keluarga yang utuh, memiliki bilai-nilai kehidupan yang  sejalan, anak-anak yang sholeh, keluarga besar yang mendukung, sahabat-sahabat yang baik. Suami mensyukuri perkawinan kami yang selalu dalam lindungan Allah SWT, masih ada orang tua yang bisa diurusin, masih ada sumber penghasilan.

Kami selalu mengutamakan komunikasi & keterbukaan. Kalau secara lisan nada suara sudah tinggi maka kami memilih kirim pesan lewat email/sms/bbm. Kami membangun keluarga yang demokratis. Suami bukan diktator, saya juga tidak mendominasi keputusan.Keputusan diambil bersama, anakpun dilibatkan.

Bertanggung jawab atas #pilihanhati berarti tidak mengeluh terhadap kekurangan pasangan. Selalu kami berdoa agar jadi istri/suami yang baik. Suami menganggap saya sebagai teman, sahabat, kekasih & sekaligus amanah/titipin Allah. Suami sangat bertanggung jawab atas pilihannya.

Setiap hari sebelum tidur kami akan menanyakan satu sama lain “apakah kamu msh sayang aku?” Suami mengaku selalu cium dahi & ke dua belah pipi saya setelah tahajud. Karena dia sangat soleh rajin dhuha, tahajud, puasa dan shalat di masjid. Kalau suami sudah terlelap “ngorok” saya akan belai-belai dan cium pipinya. Hubungan kami memang tidak banyak mengumbar kata-kata cinta alias tidak selau romantic. Tapi cinta kami sudah teruji & terbukti dibangun dengan dasar yang kokoh.

Saya bersyukur berjodoh dengan seorang pria #pilihanhati yang saling cinta. Kami berjanji untuk bertemu di akhirat kelak. Kami membangun rumah tangga atas dasar cinta dan mencari ridho NYA. Itu yang paling penting…

Bahagia adalah sebuah pilihan. Kita boleh memilih untuk terus melihat kekurang pasangan kita dan merasa tidak bahagia selamanya. Tapi kita juga bisa memilih melihat hal-hal kecil yang mbuat kita bahagia dari pasangan kita kan? Pasti ada deh,misalnya kekonyolannya. Manusia kan tidak sempurna. Kadang ketika kita disakiti pasangan kita, kita juga ingin membalasnya. Padahal saling menyakiti bukan solusi.

Dulu suamiku agak acuh sama anak-anak. Ketika hampir bercerai dia malahan belajar jadi bapak yang baik. Anak-anak pun makin sayang padanya. Saya yakin memiliki suami yang paling mengerti diri saya. Saya sangat bersyukur… Belum tentu loh ada pria lain yang mau mengerti spt dia.

Yang luar biasa adalah suami masih sangat sayang sama saya walaupun saya berkali-kali telah mengecewakan dirinya. Cinta atau pengertian ya? Alhamdulillah.

Carilah jodoh yang seiman supaya aman, jangan kalap pedekate calon karena tajir semata. Kalau gaya hidup & pandangn hidup beda ya jangan dipaksakan.

Untuk bisa bahagia dalam pernikahan kita maka kita harus berjuang & bersedia berubah untuk kenyamanan bersama. Jangan egois,  nanti rugi sendiri.

Sekian dulu sharing saya yaa… semoga bisa dipetik manfaat dari sekelumit perjalanan kehidupan saya yang belum seberapa ini.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

One Response on “Pilihan Hati

  1. Restu says:

    Dear mbak nunik dan pak indra,

    Pd cerita diatas ada bagian: “Kami sangat mementingkan anak & ortu & diam-diam saling menyadari kalau kami sangat cinta. Susah lho cari ganti pria yang sholeh, sabar & “setia” hehe. Intinya saya melihat alasan perkawinan itu adalah faktor utama untuk bertahan dan menghindari perceraian”

    Kenapa kata “setia” diatas pakai tanda kutip ua??? Itu disebut sbg faktor utama untuk bertahan.

    Trm ksh

Leave a Reply