Relationship Coach

Nikah Dewasa

Nikah DewasaMerespon keinginan teman-teman yang ketinggalan menyimak kultwit nikah dewasa, saya posting di sini ya… Supaya bisa dinikmati bersama :)

Kedewasaan sesorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Apa yang akan kita lakukan saat menyadari ternyata pasangan kita ternyata ‘belum dewasa’? Apa yang akan kita lakukan, jika akhirnya diketahui sangsuami ‘belum dewasa’? Apa sich indikatornya kalau pasangan kita belum dewasa? Salah satunya adalah sikap bertanggung jawab. Ada yang mau menambahkan? Mudah marah, ngambek, merasa selalu benar, mudah menyerah, mudah tersinggung.

Ada tambahan nich dari tweeps tentang indikator belum dewasa: boros alias belum mampu berhemat, orang yang nggak tahu apa keinginannya, kalau ada masalah kecil sering ngambek, suka mengajak berantem dihadapan publik… Masih ada yang lain? Nanti tambahin sendiri :)

Bagi yang sedang mencari pasangan, jangan hanya berpatokan kepada umur calon pasangan. Eitsss… Jangan cuma menuntut calon pasangan saja untuk bersikap dewasa yaa.. Yang paling penting justru kita dulu yang harus dewasa. Hayoo jujur… Biasanya refleks kita apa sich saat mengetahui ternyata pasangan kita belum dewasa?

Seringkali refleks kita adalah menuntut pasangan kita untuk segera bersikap dewasa… Betul apa betul? :) Apakah dengan menuntut  pasangan kita untuk segera bisa bersikap dewasa, akan memberikan hasil yang positif?

Seringkali versi kita, kita sedang mengajak pasangan kita untuk mau berubah jadi lebih dewasa. Tapi yang terdengar oleh dia, anda menuntut! Saat pasangan kita merasa dituntut untuk segera bersikap dewasa, ada beberapa kemungkinan reaksi dia. Ada yang tersinggung, marah, menarik diri, (pura2) cuek. Reaksi kita sendiri, melihat reaksi pasangan kita seperti itu, biasanya malah memperburuk keadaan. Benar apa benar?

Begitu melihat reaksi pasangan yang “tidak dewasa’ tersebut, tanpa sadar kita juga berperilaku yg sama… tidak dewasa! Ada yang ikutan marah, ikut kesal, ngambek… Tidak sedikit juga yang memilih ‘pasrah’. Ada juga yang memilih untuk bersikap ‘menerima’. Yang beneeer… Menerima apa pasrah? Banyak yang bilang… Saya sudah ajak baik-baik tidak mau, disindir juga tidak  mempan.. sayamarah.. Eh dia malah ikutan marah :(

Saya sudah lakukan semua, saya sudah lakukan yang terbaik. Really? Versi siapa? Seringkali kita bersikap subyektif. Kata kita, kita sudah lakukan yg terbaik.. Kata dia? Kecenderungan kita biasanya ingin segera dapat hasil INSTAN. Ingin dia segera bisa berubah, jadi lebih dewasa. Hasil yang didapat justru seringkali bertolak belakang dengan keinginan kita.

Pasangan kita jadi semakin menarik diri. Semakin keras kita berusaha untuk ‘merubah’ dia, semakin keras dia bertahan. Yang berusaha merubah jadi frustasi, yang  ingin dirubah jadi sakit hati. Kalau sudah begini kondisinya, apa yang harus dilakukan? Pasrah? ‘nrimo’?

Sudah mulai dapat bayangan ya, bagaimana seharusnya kita bersikap saat menyadari bahwa pasangan kita belum dewasa? Harus ada yang ‘dewasa’ dalam sebuah pernikahan. Yang terbaik, kedua belah pihak sama-sama dewasa. Eh.. saat saya bilang dewasa, bukan berarti ‘tua’ lho… baik umur maupun kelakuan. Dewasa itu bukan berarti sedikit-sedikit nasihatin pasangan, kasih wejangan terus… bisa bete pasangan kita. Dalam kedewasaan, teteup oke koq untuk bercanda, kadang-kadang melakukan hal ‘konyol’. Jadi jangan sampai salah ‘terjemahkan’ tentang dewasa ya.

Nah, karena ‘kebetulan’ anda yang membaca #nikahdewasa ini, berarti anda yang sekarang harus tumbuh  lebih dulu untuk jadi dewasa :). Kalau anda seorang wanita  & ternyata pasangannya belum dewasa… sudah tahu apa yang harus dilakukan? Bersikaplah dewasa, inspirasi pasangan kita untuk mau berubah. Kita tunutun pasangan kita, bukan tuntut untuk berubah.

Dalam proses menuntun & menginspirasi pasangan kita ini, ada 1 skill yang wajib dimiliki oleh kita… skill komunikasi. Bangun kualitas komunikasi yang baik dengan pasangan. Ciptakan rasa nyaman dalam prosesnya. Jika pasangan merasa nyaman, skill komunikasi kita bagus… banyak hal yang bisa dikomunikasikan dengan lebih mudah kepada pasangan. Dan kita berikan contoh dengan sikap, perilaku & perkataan kita sehari-hari bahwa kita cukup dewasa.

Insya Allah dengan pasangan merasa nyaman, kita punya skill komunikasi yang bagus, kita bisa menginspirasi & menuntun pasangn untuk mau berubah. Tetap diingat, bahwa semua ini butuh proses! Jangan berharap instan. Butuh usaha, waktu yang cukup untuk mulai membuahkan hasil. Kalau ada yang ingin hasil instan, artinya yang bersangkutan sudah dewasa atau belum ya?

Butuh komitmen & kerja keras untuk bisa membuahkan hasil… sabar! Sabar dalam prosesnya, bukan pasrah! Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mulai ada hasil? Kita butuh waktu minimal 6 bulan berusaha secara konsisten untuk mulai boleh mengharapkan hasil. Bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama.

Waktu, inisiatif, kerja keras, komitmen… sebagian dari harga yang harus berani dibayar. Jika kita benar-benar  ingin membangun keluarga yang bahagia… beranilah bayar harganya!

Semoga sharing ini bisa sedikit memberikan pencerahan. Selamat bertumbuh, selamat berproses… ‘nikmati’ prosesnya :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

Leave a Reply