Relationship Coach

Kaptenbengek – Peran Suami Istri

Bayangkan anda menjadi awak  sebuah kapal laut. Apa yang anda harapkan dari sang kapten kapal? Handal, cekatan,  memiliki leadership yang bagus, kompeten, komunikatif, punya tujuan yang jelas, bisa menghibur, tegas, ramah, tidak mudah panik… silakan anda tambahkan sendiri sisanya :)

Dengan semua kualifikasi yang dimiliki tersebut anda sebagai awak kapal akan merasa tenang, aman dan yakin sang katen akan membawa anda beserta seluruh kapal ke tempat tujuan yang telah disepakati bersama. Namun bagaimana jika di tengah perjalanan anda menemukan ternyata sang kapten tidak memenuhi banyak dari kriteria yang telah kita sebutkan di atas tadi? Ternyata sang kapten tidak cukup handal, peragu, kaku dalam berkomunikasi, bingung dengan tujuannya, kurang kompeten, mudah panik? Ditambah pula pula belakangan anda mengetahui bahwa dia sering tidak yakin dengan apa yang dia lakukan?

Apa yang anda rasakan? Kecewa, marah, merasa tertipu? Apa yang akan anda lakukan? Anda menuntut sang kapten untuk segera menjadi handal, menuntut untuk bisa kompeten, menuntut untuk punya tujuan yang jelas, menuntut agar tidak mudah panik? Dan tuntutan-tuntutan lainya? Ingat, ada saat ini sedang di atas kapal di tengah lautan. Anda tetap menuntut sang kapten untuk bisa seperti yang anda harapkan dan anda menunggu hasilnya segera. Anda tidak mengambil tindakan apapun, karena itu adalah tanggung jawab sang kapten. Menurut anda apakah tuntutan anda akan membawa hasil? Tiba-tiba dengan tuntutan anda sang kapten menjelma seperti yang anda tuntut? Realistiskah anda?

Saya yakin anda akan setuju dengan saya kalau tindakan menuntut  tadi tidak akan membawa hasil apa-apa, malah kemungkinan besar akan semakin memperburuk keadaan. Mengapa? Karena secara faktual sang kapten memang belum memiliki kualitas dan kualifikasi seperti yang anda harapkan. Sindrom ini saya namakan sindrom kaptenbengek .

Ya, saya sengaja menggunakan istilah yang agak ‘nakal’ supaya mudah buat kita untuk mengingatnya. Kaptenbengek adalah sebuah kondisi di mana ternyata seseorang yang kita asumsikan memiliki kemampuan dan kualitas untuk memimpin kita ternyata belakangan kita ketahui tidak seperti yang kita harapkan atau bayangkan. Perasaan kecewa, marah, merasa tertipu umumnya timbul setelah mengetahui kondisi ini. Menuntut yang bersangkutan untuk segera bisa melakukan yang menjadi seperti yang seharusnya dia lakukan merupakan reaksi yang umum terjadi. Ujung-ujungnya anda dan yang bersangkutan berada dalam suasana yang sangat tidak nyaman.

Apa terjemahan dari sindrom kaptenbengek tadi dalam kehidupan suami istri?

Saat ini sindrom kaptenbengek banyak kita dapati dalam kehidupan suami istri. Mungkin saat ini anda tengah mengalaminya. Artikel ini saya tujukan untuk anda para istri dengan harapan bisa membuka paradigma baru dan membantu anda untuk mengambil sikap dan tindakan yang akan meningkatkan kualitas kehidupan pernikahan anda.

Kalau kita mau jujur, banyak saat ini para istri yang sedang merasa kecewa dengan suaminya karena ternyata sang suami tidak/belum menjadi seperti yang para istri harapkan. Banyak kata “harusnya…  mestinya” yang dilontarkan oleh istri.

“Harusnya dia sebagai kepala keluarga khan….. ”

“Mestinya dia sebagai suami….”

Anda bisa isi sendiri titik-titik tadi dengan apa yang anda pikirkan. Tanpa anda sadari anda melakukan persis seperti cerita saya di awal tadi. Suami kita ibaratkan sebagai kapten kapal dan anda sebagai awak kapalnya. Begitu anda menyadari ternyata suami anda tidak/belum memenuhi kualitas/kualifikasi seperti “yang seharusnya”, anda cenderung untuk menuntut suami untuk segera bisa berubah. Dan kita sudah bisa menebak seperti apa kelanjutannya.

Lalu bagaimana seharusnya? Kita lanjutkan di artikel berikutnya ya :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

Post Tagged with

Leave a Reply