Relationship Coach

Cerai = melarikan diri?

melarikan diriBagi anda yang saat ini sedang mengalami masalah pernikahan yang cukup berat, bayangan perceraian nampaknya sudah di depan mata, tak terhindarkan. Mungkin dari anda sendiri saat ini yang menginginkan untuk cerai atau dari pasangan anda yang sudah berkeras untuk bercerai.

Dalam kondisi ini nampaknya relatif mudah untuk melakukan klaim bahwa anda sudah melakukan yang terbaik, kita sudah melakukan semua hal yang mungkin dilakukan untuk menyelamatkan pernikahan ini. Tapi apakah benar demikian faktanya?

Dari pengamatan saya selama melakukan konseling, banyak yang akhirnya menyadari bahwa ternyata belum banyak yang mereka lakukan untuk memperbaiki hubungan dengan pasangannya. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya secara obyektif menyadari bahwa sebenarnya mereka boleh dibilang belum melakukan apapun yang seharusnya dilakukan. Mereka hanya merasa sudah melakukan semuanya.

Saat konseling saya suka mengatakan kepada klien, bahwa dalam kondisi ini cerai adalah cara ‘mudah’ untuk dilakukan. Tinggal mendaftarkan ke pengadilan agama atau menunjuk pengacara untuk mengurusnya. Saya sering menawarkan kepada klien untuk menempuh cara yang ‘sulit’.

Saya mengajak mereka untuk mau melihat permasalahan yang ada secara obyektif. Mau melakukan introspeksi. Mau melakukan perbaikan diri. Mau melakukan transformasi diri. Mau melakukan perubahan mindset. Mau berjuang, mau untuk membekali diri dengan knowledge dan skill yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini, mau mengalami perasaan tidak nyaman dalam proses ini, mau melepas ego, mau bersabar dalam prosesnya… Intinya, saya mengajak klien untuk jangan terlalu cepat menyerah dengan keadaan yang ada dan melakukan justifikasi bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik.

Untuk mau menempuh jalan yang sulit ini mereka perlu tahu dulu apa hasil yang bisa diharapkan. Apakah hasilnya sepadan dengan prosesnya? Apakah masuk akal? Apakah mungkin untuk dicapai? Apakah mereka mampu untuk mencapainya?

Hasil yang saya tawarkan kalau mereka mau menempuh jalan yang ‘sulit’ ini adalah mereka bisa menjadi orang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, menjadi orang yang bisa mengerti pasangannya, memiliki mindset yang tepat dalam menjalani sebuah hubungan pernikahan, memiliki skill yang dibutuhkan, menjadi orang yang lebih perhatian.

Saya menawarkan mereka untuk tumbuh sedemikian rupa sehingga saat mereka bercermin mereka bisa mengatakan suka dengan orang yang ada di muka cermin itu. Saya menawarkan mereka untuk tumbuh sedemikian rupa sehingga saat mereka sudah bertumbuh, mereka bisa bisa mengatakan dan meyakini secara obyektif bahwa siapapun pasangan hidup mereka akan merasa bersyukur mendapatkan mereka sebagai pasangan hidupnya. Saya menawarkan kepada mereka untuk tumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang indah, pribadi yang cantik, pribadi yang menyenangkan sehingga akan menginspirasi pasangannya untuk tumbuh dan berubah ke arah yang lebih baik.

Bagi yang bertanya apakah ada jaminan bahwa kondisi pernikahan pasti akan membaik jika memilih jalan yang ‘sulit’ ini? Jawabannya, TIDAK ada jaminan. Namun saat mereka sudah bertumbuh dan pada akhirnya pasangannya ternyata menolak untuk tumbuh, saat itulah mereka akhirnya bisa mengatakan bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik. Dan kalaupun akhirnya mereka pada akhirnya tetap berpisah, sudah tidak ada lagi ‘penyesalan’ dalam hati mereka karena mereka tahu sudah melakukan yang terbaik. Dan walaupun hasil akhirnya tetap  berpisah, mereka sudah berubah menjadi orang yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dan jika Tuhan memberikan jodoh yang baru kepada mereka, mereka akan menjadi pasangan hidup yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Mereka yang akhirnya berani untuk memilih jalan yang ‘sulit’ ini akhirnya mulai bisa melihat titik terang. Mulai bisa melihat apa yang belum mereka lakukan, peran apa dari mereka yang juga menyebabkan kondisi ini terjadi. Yang pada akhirnya mereka merasa bersyukur karena berani memilih jalan yang sulit ini.

Sekarang, bagaimana dengan anda? Anda memilih jalan yang mudah… melarikan diri… atau anda berani mengambil jalan yang ‘sulit’ untuk masa depan yang lebih baik nantinya. Keputusan ada di tangan anda :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

Post Tagged with , ,

2 Responses on “Cerai = melarikan diri?

  1. IcHahee says:

    Iya.. Cerai/ngga → ga bisa ngejamin hidup si pasangan bakal bahagia/tidak nantinya..
    Ketika mereka ga mau sama2 belajar, dari apa yg udah terjadi, ga mau sama2 saling mengingatkan, introspeksi diri, smua akan terulang..
    Kalo pilihan termudah tsb diambil (cerai) tapi dia ga belajar kalo cerai itu bgini bgini bgini, bukan ga mungkin suatu saat nanti itu akan terjadi lagi dg pasangan barunya..

    Smua balik lagi ke kita, pilihan & kputusan ada di tangan kita..
    Bijak2lah memilih, bijak2lah mngambil kputusan..

    Turunin ego, liat masalah dr berbagai perspektif, tengok dari berbagai sisi..
    Insyaallah kita bisa dapat banyak hal..
    Jadi lebih bijak, lebih dewasa, lebih tanggung, lebig berilmu, lebih baik dalam sgala hal..
    Amiiiin..

    Makasi om novel, untuk artikelnya..
    Aku jadi dapet insight nih..
    Lumayan buat mantepin diri kalo konseling nanti..
    Hehehehe..

    1. IcHahee says:

      *lebih tangguh, lebih berilmu maksudnya.. Typo.. Hhee*

Leave a Reply